Kamis, 08 Mei 2008

Bom Waktu Subsidi BBM

Harga minyak dunia yang hampir mencapai 120 US dollar per barrel, bahkan pernah mencapai 120 US dollar per barrel beberapa hari yang lalu, menjadikan kondisi keuangan negara semakin carut-marut. APBN pun rajin disesuaikan dengan kondisi yang cukup berfluktuasi.

Saat ini tidak banyak alternatif solusi yang dapat dipilih pemerintah, bahkan mungkin hanya terlintas satu solusi atas permasalahan ini, yaitu dengan menaikkan harga BBM bersubsidi. Pada awalnya, pemerintah enggan menaikkan harga BBM sampai tahun 2009. Faktor politislah yang banyak mendominasi keputusan untuk tetap mempertahankan harga BBM hingga tahun 2009. Pemerintah akan dianggap gagal jika tidak mampu mempertahankan harga BBM. Hal ini akan berdampak pada pilihan masyaraat dalam pemilu yang akan dilaksanakan pada tahun 2009 mendatang.

Kenaikan BBM bersubsidi direncanakan akan mulai dilaksanakan pada bulan Juni 2008. Harga premium akan dinaikkan mejadi Rp 6.000,00 per liter, sedangkan harga solar akan naik menjadi Rp 5.500,00 per liter, dan harga minyak tanah dinaikkan menjadi Rp 2.500,00 per liter. Kenaikan harga BBM ini akan menghemat beban subsidi pemerintah sebesar Rp 35 triliun.

Kebijakan penghematan beban subsidi dengan cara menaikkan harga BBM dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap masyarakat. Pertama, kenaikan harga BBM dengan pengurangan subsidi akan mengurangi kesejahteraan masyarakat. Masyarakat akan menerima harga BBM lebih tinggi yang akan berdampak pada peningkatan biaya produksi dan bagian pendapatan yang digunakan untuk konsumsi. Kedua, pengurangan subsidi BBM akan meningkatkan harga barang lain, dengan kata lain inflasi akan meningkat. Peningkatan harga yang tidak disertai dengan peningkatan pendapatan masyarakat pada persentase yang sama dengan tingkat inflasi akan menurunkan pendapatan riil. Terlebih, saat ini masyarakat tidak mengalami peningkatan pendapatan walaupun harga BBM akan dinaikkan. Ketiga, masyarakat akan mengalami dampak psikologis terkait dengan kenaikan harga BBM yang tidak disertai dengan transparansi pengalokasian dana sebagai akibat dari pengurangan subsidi tersebut. Keempat, kemiskinan akan meningkat karena masyarakat yang berada pada kondisi hampir miskin turut mengalami shock akibat adanya kenaikan harga.

Walaupun terdapat berbagai dampak negatif dengan adanya pengurangan subsidi BBM yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak dunia, namun terdapat pula beberapa hal yang layak untuk dipertimbangkan. Pertama, peningkatan harga BBM berarti peringataan untuk seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak menghambur-hamburkan BBM. Kedua, pengurangan subsidi BBM pada masa sekarang berarti membantu generasi mendatang agar tidak begitu besar untuk menanggung beban utang negara sebagai akibat dari pembiayaan defisit APBN. Bagaimanapun juga, pemberian subsidi dari pemerintah yang berlebihan merupakan bom waktu terhadap perekonomian negara.

Rencana program pemberian BLT Plus sebesar Rp 100.000,00 per kepala keluarga setiap bulan, minimal selama satu tahun hanya merupakan solusi jangka pendek terhadap kenaikan harga BBM. Namun, hal ini jauh lebih baik dibandingkan jika pemerintah tidak melakukan apapun untuk mengurangi beban masyarakat. Akan lebih baik lagi jika ability to pay dari masyarakat ditingkatkan secara bertahap, sehingga ketergantungan masyarakat terhadap ’ikan’ pemberian pemerintah berangsur-angsur berkurang. Sudah saatnya pemerintah menyediakan ’pancing’ kemudian memberikannya kepada masyarakat, tidak lagi memberikan ’ikan’ secara cuma-cuma.

Departemen Kajian Strategis
BEM FEB UGM

0 komentar:

Posting Komentar

◄ New Post Old Post ►
 

Copyright 2012 Info Ekonomi Mancanegara: Bom Waktu Subsidi BBM Template by Bamz | Publish on Bamz Templates