Minggu, 30 Desember 2012

Pentingnya Pembangunan Infrastuktur Pertanian dalam Mendukung Ketahanan Pangan


Pentingnya Pembangunan Infrastuktur Pertanian
dalam Mendukung Ketahanan Pangan


picture from google.com
Bung Karno pernah berpesan bahwa persoalan pangan bagi rakyat adalah persoalan hidup atau mati. Sering kita mendengar slogan Only Agriculture can feed the world yang artinya hanya pertanian yang dapat menghidupi dunia. Dari slogan tersebut kita dapat mengetahui bahwa pertanian adalah sektor terpenting dalam mempertahankan kehidupan manusia. Manusia dapat hidup tanpa gadget selama seminggu,tapi tak dapat bertahan tanpa makanan dan sektor pertanianlah tempat dimana bahan makanan dihasilkan dan kunci dalam upaya menjadikan ketahanan pangan Indonesia.

Ironisnya perhatian dan kontribusi pemerintah terhadap pertanian masih sangat kurang, terlebih dalam kesejahteraan para petani. Telah banyak artikel yang terbit beberapa bulan terakhir ini yang beropini bahwa pemerintah mengabaikan infrastuktur pertanian. Seperti yang dikatakan Anggota Komisi IV DPR RI Hermanto yang menilai pemerintah mengabaikan pembangunan infrastruktur pertanian."Kalaupun ada, itu hanya pembangunan jaringan irigasi desa (Jides) yang skalanya terlalu kecil," ujar Hermanto di Jakarta, Kamis. Jides adalah jaringan irigasi berskala kecil yang terdiri atasi bangunan penangkap air (bendungan, bangunan pengambilan), saluran dan bangunan pelengkap lainnya yang dibangun dan dikelola oleh masyarakat desa atau pemerintah desa baik dengan atau tanpa bantuan pemerintah.

Undang-undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Alam dan Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi mengamanatkan bahwa tanggung jawab pengelolaan jaringan irigasi tersier sampai ke tingkat usaha tani (Jitut) dan Jides menjadi hak dan tanggung jawab petani pemakai air (P3A) sesuai dengan kemampuannya.Menurut dia, kurangnya pembangunan waduk dan jaringan irigasi yang baru serta rusaknya jaringan irigasi yang ada mengakibatkan daya dukung irigasi bagi pertanian sangat menurun. Kerusakan ini terutama diakibatkan erosi, kerusakan sumber daya alam di daerah aliran sungai, bencana alam banjir, gempa, longsor dan gunung meletus serta kurangnya pemeliharaan jaringan irigasi hingga ke tingkat usaha tani. "Pemerintah sendiri mengakui sebagaimana tercantum dalam Renstra Kementerian Pertanian tahun 2009-2014 bahwa salah satu prasarana pertanian yang saat ini keberadaanya sangat memprihatinkan adalah jaringan irigasi," ujarnya.Jakarta (ANTARA News)

“Pemerintah lebih bersemangat mengembangkan infrastruktur di sektor hilir seperti transportasi, sedangkan infrasktruktur pertanian penopang di hulu terabaikan. Padahal tantangan ke depan bukan hanya pertumbuhan ekonomi dari pergerakan barang maupun jasa, namun juga dari kemampuan produksi pangan,” kata anggota DPR RI Komisi IV Ma’mur Hasanuddin melalui siaran persnya, Kamis (30/8).

Catatan Kementerian Pertanian, pada periode Januari hingga Juli 2012, luas kekeringan lahan sawah mencapai 53.320 hektare (ha), dengan angka gagal panen atau puso 1.358 hektare. Situasi ini dapat mengancam keberhasilan pencapaian surplus beras 10 juta ton di tahun 2014.wartaekonomi.co.id
Ekspor Impor Pertanian Indonesia Menurut Sub Sektor, Agustus - September 2012

No.

Sub Sektor

Agustus


September


Pertumbuhan
(%)
Sep thd Ags

Kumulatif
Januari-September
1.
Tanaman Pangan
Volume (Kg)



Ekspor
13.279.738
11.969.979
-9,86
157.721.723

Impor 

989.317.269
1.085.267.022
9,70
10.671.602.909

Neraca

976.037.531
1.073.297.043
9,96
10.513.881.186

Nilai (US$)



Ekspor
9.786.875
9.915.421
1,31
110.371.353

Impor
409.102.235
468.330.613
14,48
4.548.073.999

Neraca
399.315.360
458.415.192
14,80
4.437.702.646

2.
PERTANIAN
Volume (Kg)




Ekspor
2.470.727.317
2.939.750.570
18,98
23.334.444.815


Impor

1.321.978.716
1.494.450.846
13,05
14.551.761.547

Neraca
1.148.748.601
1.445.299.724
25,82
8.782.683.268

Nilai (US$)


Ekspor
2.681.401.299
3.138.308.955
17,04
27.220.910.538

Impor
872.763.694
1.026.838.151
17,65
10.526.964.408

Neraca
1.808.637.605
2.111.470.804
16,74
16.693.946.130
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Keterangan: *) Revisi data sebelumnya menyesuaikan


Tabel di atas menjelaskan bahwa untuk hasil pertanian indonesia mengekspor lebih banyak daripada impor. Namun dalam hasil tanaman pangan yang menjadi pokok Indonesia masih harus mengimpor lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini pemerintah harus lebih mengupayakan pembangunan infrastuktur sarana prasarana dalam kegiatan perekonomian demi mendongkrak ekspor dan menekan laju impor terutama dalam bahan pangan.
Beberapa infrastruktur yang dirasa perlu direalisasikan adalah sebagai berikut :
·         Membangun dan memperbaiki jalan desa dan jalan dusun untuk memudahkan petani dan nelayan dalam memasarkan hasil produk pertanian dan nelayan;
·         Membangun dan memperbaiki jalan usaha tani dan nelayan untuk memudahkan kegiatan produksi usaha tani dan nelayan di pedesaan;
·         Membangun rumah pupuk kompos di setiap desa dengan memadukan kegiatan usaha ternak sebagai salah satu pendukung bahan baku untuk memproduksi pupuk kompos;
·         Mengalokasikan anggaran dalam APBD setiap tahun anggaran untuk penyediaan benih bervarietas unggul dan bersertifikat terhadap jenis padi yang akan ditanam, bekerjasama  dengan Perusahaan Negara yang kompeten.
·         Menjamin ketersediaan pupuk, pestisida, alat mesin pertanian, terutama mengawasi pendistribusian pupuk bersubsidi yang adil, tepat waktu dan tepat sasaran sesuai dengan jadwal musim tanam petani;
·         Menjamin berlakunya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) terhadap hasil produksi pertanian terutama padi baik itu gabah kering panen maupun gabah kering giling, dengan membentuk dan memberdayakan suatu badan koperasi milik petani, yang modal awalnya ditanggung dalam APBD;
·      Membudidayakan penggunaan pupuk kompos, dalam upaya mengembalikan kedaulatan unsur hara tanah, program ini dilaksanakan melalui program butir 3 di atas;
·        Memberdayakan infrastruktur dan kelembagaan penyuluh pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan kehutanan di setiap desa, termasuk di antaranyaa merekrut tenaga penyuluh dimaksud untuk setiap desa minimal 1 orang tenaga penyuluh;
·         Melakukan pendataan lahan-lahan terlantar dalam suatu data base yang khusus, dalam upaya untuk mencetak lahan baru.
·         Melakukan pengadaan alat tangkap ikan bagi nelayan satu di antaranya pengadaan perahu yang layak (gross tonage yang memadai) dalam upaya meningkatkan penghasilan nelayan;
·         Membangun tempat pelelangan ikan yang didekatkan dengan daerah tangkapan para nelayan untuk memudahkan nelayan dalam memasarkan hasil tangkapan;
·         Membangun, merehabilitasi sumberdaya wilayah pesisir termasuk di antaranya melakukan rehabilitasi penanaman pohon-pohon bakau di wilayah pesisir dan memelihara terumbu karang, guna meningkatkan penghasilan nelayan.

Diharapkan dengan terealisasikan hal tersebut akan berdampak baik bagi ketahanan pangan Indonesia. Karena seperti yang kita ketahui, bahwa negara Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar bahkan hampir seluruh penduduk Indonesia, yaitu sekitar lebih dari 60% dari jumlah penduduk Indonesia bermatapencaharian di bidang pertanian. Bila pertanian meningkat maka rakyat indonesia pula akan semakin sejahtera dan ketahanan pangan Indonesia akan semakin baik dengan memperbanyak produksi tanpa harus mengimpor dari luar.



                                                                                                                            Oleh : Riski Aulia
                                                                                                                            Kastrat BEM FE UNS

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ New Post Old Post ►